Panas Ekstrem Bayangi Semifinal Piala Dunia 2026, FIFPRO Desak FIFA Perketat Perlindungan Pemain
AS - Panas ekstrem yang melanda sejumlah kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran terhadap keselamatan para pemain. Menjelang laga semifinal, Serikat Pesepak Bola Profesional Dunia (FIFPRO) mendesak FIFA untuk mengevaluasi protokol perlindungan pemain dari risiko suhu tinggi yang dinilai belum memadai.
Desakan itu menguat setelah analisis Reuters terhadap 94 pertandingan hingga babak perempat final menunjukkan tidak ada laga yang mencapai ambang batas panas ekstrem versi FIFA. Namun, sebanyak 35 pertandingan tercatat telah melampaui batas yang direkomendasikan FIFPRO untuk mulai menerapkan langkah-langkah mitigasi.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas standar FIFA dalam melindungi pemain, terutama karena turnamen berlangsung pada musim panas di Amerika Utara yang identik dengan suhu tinggi dan tingkat kelembapan yang ekstrem.
FIFA menggunakan indikator Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) sebagai acuan untuk mengukur tingkat tekanan panas. Indeks ini tidak hanya mempertimbangkan suhu udara, tetapi juga kelembapan, radiasi matahari, dan kecepatan angin sehingga dinilai lebih mencerminkan kondisi yang dirasakan tubuh manusia.
Sesuai protokol FIFA, pertandingan baru dipertimbangkan untuk ditunda atau dihentikan apabila WBGT mencapai 32 derajat Celsius. Sementara itu, cooling break dapat diberlakukan jika kondisi lapangan dianggap memerlukan.
Sebaliknya, FIFPRO menilai ambang batas tersebut terlalu tinggi. Organisasi yang mewakili pesepak bola profesional dunia itu meminta langkah pencegahan dilakukan lebih dini, mulai dari pemberian cooling break, penyesuaian waktu kick-off, hingga penjadwalan ulang pertandingan apabila cuaca berpotensi membahayakan kesehatan pemain.
Direktur Medis FIFPRO, Dr. Vincent Gouttebarge, menegaskan bahwa keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama dalam setiap penyelenggaraan kompetisi.
"Kami ingin melindungi kesehatan para pemain. Jika risikonya meningkat, tindakan pencegahan harus dilakukan lebih awal, bukan menunggu kondisi menjadi ekstrem," ujar Gouttebarge, seperti dikutip Reuters.
Menurutnya, dampak perubahan iklim membuat pertandingan sepak bola semakin sering berlangsung dalam suhu tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko heat stress, yang dapat menyebabkan dehidrasi, kram otot, penurunan konsentrasi, kelelahan, hingga kolaps apabila tidak segera ditangani.
Para ilmuwan juga mengingatkan bahwa ancaman panas ekstrem tidak hanya mengintai pemain. Penonton, ofisial pertandingan, relawan, hingga petugas keamanan juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan ketika laga digelar pada siang atau sore hari di wilayah dengan suhu dan kelembapan tinggi.
Bahkan, penelitian yang dipublikasikan menjelang turnamen memperkirakan sekitar seperempat pertandingan Piala Dunia 2026 berpotensi berlangsung dalam kondisi yang melampaui batas aman menurut rekomendasi FIFPRO.
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Opini | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu




