Warga Di Pandeglang Dihantui Rumah Ambruk & Anak Sakit Anemia Berat
Tak Pernah Mendapatkan Bantuan Dari Pemerintah
PANDEGLANG - Satu keluarga, yakni Yeni Farida (40) bersama suami dan tiga anaknya warga Kampung Caringin Lor, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, hingga saat ini dihantui (rasa takut) atas kondisi rumah yang kerap bocor saat hujan, dan nyaris ambruk yang mengancam keselamatan.
Mirisnya, selain kondisi rumah semi permanen tak layak huni, Yeni sama sekali tak pernah mendapatkan Bantuan Sosial (Bansos) dari pemerintah. Padahal, Yeni Farida bersama suami dan tiga anaknya menjalani hidup serba keterbatasan.
Kondisi rumah yang telah mereka tempati sekitar lima tahun terakhir kini semakin memprihatinkan. Sebagian atap yang terbuat dari genteng dan rumbia ambruk sehingga setiap hujan turun, air masuk dari berbagai sudut rumah.
Kondisi itu membuat keluarga tersebut harus berpindah-pindah tempat saat hujan mengguyur. Bahkan, ketika hujan deras turun pada malam hari, mereka memilih mengungsi ke rumah tetangga demi menghindari atap yang dikhawatirkan ambruk.
Walau kondisinya sangat memprihatinkan, hingga saat ini tak kunjung ada bantuan dari pemerintah untuk membangun rumahnya agar bisa masuk kategori layak huni.
“Sudah sekitar lima tahun tinggal di sini. Rumah rusaknya sudah setahun. Mau diperbaiki juga tidak punya biaya. Suami kerja serabutan, untuk biaya berobat anak saja sudah berat,” keluh Farida, Senin (3/8).
Penderitaan keluarga ini tak berhenti pada kondisi rumah. Anak ketiganya, Adibah (7), didiagnosis menderita anemia berat dan harus menjalani transfusi darah secara rutin setiap bulan di rumah sakit di Kota Serang agar kondisinya tetap stabil.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, suami Farida bekerja serabutan sebagai pencari rambutan. Sementara Farida membantu menambah penghasilan dengan mencuci piring di sebuah rumah makan di sekitar tempat tinggalnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, Farida mengaku keluarganya belum pernah terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT).
“PKH tidak pernah, BLT juga tidak pernah dapat. Belum pernah sama sekali. Apalagi bantuan untuk menbangun rumah,” keluhnya.
Farida berharap ada perhatian dari pemerintah maupun masyarakat agar anaknya tetap bisa menjalani pengobatan dan keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih layak.
“Harapan saya semoga ada yang peduli. Anak saya harus transfusi darah setiap bulan, rumah juga sudah mau roboh. Mudah-mudahan ada bantuan,” harapannya.
Terpisah, Kasi Kesejahteraan Desa Caringin, Fathurrahman, membenarkan kondisi keluarga tersebut. Ia mengatakan keluarga Farida belum tercatat sebagai penerima PKH maupun BPNT meski sudah memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan.
Menurutnya, berdasarkan data kesejahteraan sosial, keluarga itu berada pada kategori desil lima sehingga belum masuk kelompok prioritas penerima bantuan sosial.
“Memang ada laporan rumahnya hampir roboh. Kendalanya, bangunan itu berdiri di atas tanah milik warga asal Serang sehingga status lahannya masih menumpang,” ungkap Fathurrahman.
Ia menjelaskan, penyaluran bantuan sosial saat ini mengacu pada data desil. “Warga yang masuk kelompok desil bawah akan diprioritaskan menjadi penerima bantuan apabila memenuhi syarat yang ditetapkan pemerintah,” tandasnya.(pal)
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu



