RI Masih Bergantung pada Singapura untuk Impor Migas
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Singapura menjadi pemasok impor minyak dan gas (migas) terbesar bagi Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026, mengungguli Malaysia dan Amerika Serikat (AS).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengungkapkan, nilai impor migas Indonesia pada semester I-2026 mencapai 22 miliar dolar AS, naik 38,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut turut mendorong total impor nasional menjadi 137,24 miliar dolar AS atau meningkat 18,69 persen secara tahunan.
"Berdasarkan negara asal, impor migas terbesar berasal dari Singapura sebesar 28,36 persen, disusul Malaysia 19,72 persen dan Amerika Serikat 8,55 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).
Secara bulanan, impor migas pada Juni 2026 juga mengalami kenaikan, baik dari sisi volume maupun nilai. Namun, BPS belum menyimpulkan faktor penyebabnya dan masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Sepanjang semester I-2026, impor minyak mentah tercatat sebesar 16,16 miliar dolar AS, sedangkan impor hasil minyak mencapai 5,85 miliar dolar AS. Untuk impor minyak mentah, Nigeria menjadi pemasok terbesar dengan pangsa 24,91 persen, diikuti Angola 15,41 persen dan Arab Saudi 13,62 persen.
Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno menjelaskan, dominasi Singapura bukan karena negara tersebut merupakan produsen minyak utama, melainkan memiliki kapasitas kilang dan pusat perdagangan BBM yang sangat besar. Menurutnya, pemerintah kini mempercepat peningkatan kapasitas kilang di Balikpapan, Cilacap, Dumai, dan Plaju agar minyak mentah domestik dapat diolah di dalam negeri.
"Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor BBM dari Singapura dan Malaysia dapat dikurangi," katanya.
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menambahkan, kapasitas kilang Singapura yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari menjadikan negara tersebut sebagai pusat pengolahan dan perdagangan BBM di kawasan. Kedekatan geografis serta hubungan dagang yang kuat membuat Indonesia masih banyak mengimpor gasoline, diesel, dan avtur dari Singapura. Sementara itu, kapasitas kilang nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 55-60 persen kebutuhan BBM dalam negeri.
Di sisi lain, Pengamat Energi Inas Nasrullah Zubir menilai lonjakan nilai impor migas lebih dipicu kenaikan harga minyak dunia dibanding bertambahnya volume impor. Menurutnya, harga minyak global sempat naik dari sekitar 70 dolar AS menjadi 110 dolar AS per barel, sementara rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) selama Januari-Juni 2026 mencapai 91,8 dolar AS per barel atau meningkat sekitar 30 persen.
"Sebagian besar kenaikan nilai impor berasal dari lonjakan harga minyak dunia, bukan karena volume impor Indonesia meningkat secara signifikan," ujarnya.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu



