TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Kopi Olahan Indonesia Kian Berjaya di Pasar Global, Ekspor Tembus Rp12,3 Triliun

Reporter & Editor : AY
Senin, 10 Agustus 2026 | 12:36 WIB
Kopi Indonesia. Foto : Ist
Kopi Indonesia. Foto : Ist

JAKARTA – Industri pengolahan kopi Indonesia terus memperlihatkan kinerja positif di pasar internasional. Sepanjang 2025, nilai ekspor kopi olahan nasional tercatat mencapai US$692 juta atau sekitar Rp12,33 triliun, berdasarkan kurs Rp17.810 per dolar AS.


Angka tersebut tumbuh 4,36 persen dibandingkan capaian ekspor pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam industri kopi dunia.


Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, perkembangan industri pengolahan turut memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia.


"Industri pengolahan menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia," kata Faisol saat membuka Specialty Indonesia 2026 di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Senin (10/8/2026).


Menurut Faisol, peluang industri berbasis komoditas perkebunan tidak hanya berasal dari kopi. Produk olahan teh juga memiliki prospek pasar yang terus berkembang.


Ia menyebut pasar ekstrak teh global meningkat dari US$3,6 juta pada 2019 menjadi US$5,6 juta pada 2025. Sementara itu, nilai pasar suplemen berbahan teh hijau mencapai US$909,9 juta pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh hingga US$1,33 miliar pada 2033.


"Besarnya pertumbuhan pasar tersebut menunjukkan peluang bagi industri teh Indonesia untuk memperkuat daya saing sekaligus memperluas pemasaran produk olahan bernilai tambah," ujarnya.


Faisol juga menyoroti potensi industri pengolahan kakao dan hortikultura. Indonesia saat ini tercatat sebagai produsen produk olahan kakao terbesar keempat dunia serta berada di posisi ketujuh sebagai produsen biji kakao.


Sektor hortikultura pun dinilai memiliki prospek besar. Ketersediaan bahan baku berupa buah dan sayuran yang melimpah menjadi modal untuk mengembangkan industri pengolahan sekaligus meningkatkan ekspor.


Pada 2025, ekspor produk hortikultura Indonesia mencapai US$544,8 juta. Produk nanas kaleng menjadi salah satu penyumbang terbesar, dengan kontribusi hampir separuh dari total nilai ekspor hortikultura.


Di sektor peternakan dan pangan, pengembangan produk olahan susu juga dinilai menjanjikan. Produk bernilai tambah seperti keju dan gelato berpeluang terus tumbuh seiring ekspansi industri kuliner, bakery, hotel, restoran, dan kafe.


Sementara itu, Industri Hasil Tembakau (IHT) tetap menjadi salah satu sektor manufaktur strategis yang berbasis bahan baku dalam negeri. Indonesia bahkan tercatat sebagai eksportir produk IHT terbesar keenam di dunia.


Faisol menambahkan, cerutu premium berbahan tembakau Deli dan Besuki Na-Oogst menjadi salah satu produk unggulan yang telah memiliki pengakuan di pasar internasional.


Selain komoditas tersebut, industri fermentasi berbasis bahan baku lokal juga dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang luas. Berdasarkan Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi global diperkirakan bernilai US$788,33 juta pada 2025 dan berpotensi mencapai US$1,2 miliar pada 2034.


"Peluang tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengembangkan produk fermentasi berbasis lokal menjadi subsektor industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan menghasilkan produk berdaya saing," tutur Faisol.


Ia berharap Specialty Indonesia 2026 dapat menjadi wadah bagi pelaku industri, dunia usaha, hotel, restoran, hingga pemilik merek untuk memperluas jejaring dan membuka akses pasar baru.


"Semoga ajang ini menjadi ruang yang besar bagi para pelaku bisnis, pengguna, hotel dan restoran, sehingga brand Indonesia semakin dikenal di mancanegara," pungkasnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit