TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Pramono: Polusi Jakarta Tak Bisa Diatasi Hanya dari Sektor Transportasi

Reporter: Farhan
Editor: AY
Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:46 WIB
Kota Jakarta terselimuti polusi. Foto : Ist
Kota Jakarta terselimuti polusi. Foto : Ist

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan penanganan polusi udara di Ibu Kota menghadapi tantangan karena sumber emisi tidak hanya berasal dari wilayah Jakarta. Aktivitas industri di kawasan aglomerasi yang masih menggunakan bahan bakar batu bara dinilai turut berkontribusi terhadap buruknya kualitas udara.


Pramono menyoroti sejumlah kawasan industri di sekitar Jakarta yang masih mengandalkan energi berbasis batu bara. Salah satu yang disebutnya adalah Suralaya, kawasan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berada di Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, Banten.


“Persoalan utamanya bagaimana koordinasi di aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih mengizinkan industrinya menggunakan bahan bakar batu bara,” ujar Pramono seusai menghadiri Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).


Menurutnya, berbagai langkah yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengurangi emisi di dalam kota akan sulit memberikan hasil maksimal apabila wilayah penyangga Jakarta masih membiarkan industri menggunakan pembangkit berbahan bakar batu bara.


“Kalau itu tidak diizinkan, saya yakin dampaknya akan jauh lebih besar,” katanya.


Pramono menegaskan, persoalan polusi udara Jakarta membutuhkan penanganan bersama lintas daerah. Sebab, sumber pencemaran udara dapat berasal dari kawasan di luar batas administratif DKI Jakarta.


Di sisi lain, Pemprov DKI terus mendorong pengurangan emisi dari sektor transportasi. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui elektrifikasi angkutan umum dan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.


Saat ini, Jakarta telah memiliki sekitar 500 bus listrik. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah hingga mencapai lebih dari 10.000 unit pada 2030.


Selain kendaraan listrik, Pemprov DKI juga tengah menyiapkan pengembangan kendaraan berbasis hidrogen dan teknologi hibrida.


“Jadi, apa pun yang dilakukan pemerintah di dalam Jakarta dengan membuat mobil listrik, transportasinya diperbaiki, orang yang dulu naik transportasi pribadi ke transportasi umum,” tutur Pramono.


Namun, menurutnya, upaya tersebut belum cukup apabila kawasan suburban di sekitar Jakarta masih memberikan ruang bagi industri untuk menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.


“Menurut saya belum sepenuhnya akan menyelesaikan kalau di sub-urban area atau daerah yang melingkupi Jakarta ini masih diizinkan untuk industrinya menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara,” tandasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit