Perang Iran Bikin AS Boncos Rp590 Triliun
WASHINGTON — Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran selama hampir tujuh bulan mulai menguras anggaran dan persediaan persenjataan Washington.
Laporan Inspektur Jenderal Pentagon yang disampaikan kepada Kongres AS mengungkap, operasi militer dengan sandi Operation Epic Fury menghabiskan sekitar 33,4 miliar dolar AS atau Rp590,6 triliun sepanjang 28 Februari hingga 30 Juni 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 22,3 miliar dolar AS atau Rp394,3 triliun digunakan untuk pengadaan dan penggunaan amunisi.
Laporan yang dipublikasikan Senin (14/9/2026) itu menyebut penggunaan amunisi dalam operasi tersebut telah menekan persediaan strategis AS. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan tantangan industri pertahanan Amerika dalam mempercepat produksi untuk mengganti persenjataan yang terpakai.
“Penggunaan amunisi dalam OEF telah menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkap hambatan pada basis industri untuk pasokan ulang amunisi,” demikian bunyi laporan tersebut, seperti dikutip AFP, Selasa (15/9/2026).
Selain amunisi, AS juga mengalami kerugian pada sejumlah aset militernya. Empat jet tempur F-15 dilaporkan hancur, sementara satu F-35 mengalami kerusakan. Tujuh pesawat tanker KC-135 juga rusak dan 30 drone MQ-9 Reaper dilaporkan hancur.
Serangan Iran turut menyebabkan kerusakan pada ratusan bangunan dan fasilitas militer AS di sejumlah negara kawasan, termasuk Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Namun, kerusakan fasilitas tersebut belum dihitung dalam total biaya perang. Pentagon menyebut belum dapat memastikan apakah seluruh fasilitas akan dibangun kembali maupun pihak yang nantinya menanggung biaya perbaikannya.
Kondisi persenjataan AS juga menjadi perhatian. CNN sebelumnya melaporkan militer AS mengalami penurunan stok rudal jarak jauh dan rudal pencegat pertahanan udara. Hampir 80 persen persediaan rudal pencegat THAAD disebut telah digunakan selama konflik.
Trump Klaim Stok Senjata Aman
Laporan Pentagon tersebut muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali membantah kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan senjata Amerika.
Trump bahkan pernah menyatakan AS memiliki persediaan amunisi yang tidak terbatas. Menurutnya, industri pertahanan AS juga terus meningkatkan produksi berbagai sistem persenjataan.
“Pabrik-pabrik perusahaan pertahanan kita beroperasi 24/7,” tulis Trump melalui Truth Social, Senin (14/9/2026).
Trump menyebut produksi saat ini terutama mencakup sistem Patriot, THAAD, Tomahawk, dan berbagai rudal standar lainnya.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan militer Amerika menyerang lebih dari 1.000 target Iran dalam 24 jam pertama operasi. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, serangan berskala besar disebut tidak lagi dilakukan seperti pada fase awal perang.
Negosiasi Masih Buntu
Di tengah tingginya biaya perang, upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik juga belum membuahkan hasil.
Pemerintah Iran terbaru menolak pembicaraan dengan AS sebelum tuntutan Teheran dipenuhi.
“Tidak ada pembicaraan sampai syarat-syarat Iran terpenuhi. Titik!” kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, melalui X, seperti dilansir AFP, Selasa (15/9/2026).
Trump sebelumnya menyatakan terbuka untuk melakukan perundingan. Ia bahkan mengklaim Iran kini berada dalam posisi terdesak dan menginginkan kesepakatan dengan cepat.
Trump berharap perang dapat berakhir tahun ini atau tidak lama setelah pemilu sela AS pada November mendatang. Ia juga menyebut berakhirnya konflik dapat mendorong harga bensin turun.
Dalam pernyataan lainnya, Trump bahkan membuka kemungkinan AS mempertahankan kendali atas minyak Iran jika Washington memutuskan tetap berada di negara tersebut.
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 18 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu






