Paylater Makin Diminati, Anak Muda Dibayangi Risiko Utang
SERPONG – Kemudahan belanja dengan sistem bayar nanti atau buy now, pay later (BNPL) kian menarik minat masyarakat, terutama generasi muda. Namun, di balik kepraktisannya, penggunaan paylater yang tidak terencana berisiko memicu pembengkakan pengeluaran dan menumpuknya tagihan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rekening pengguna paylater perbankan mencapai 32,77 juta pada Juni 2026, naik dari 24,44 juta pada Januari 2025. Nilai sisa pokok pembiayaannya juga menembus Rp30,7 triliun, tumbuh 33,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Survei Katadata Insight Center (KIC) bersama OVO Finansial pada 2024 terhadap 2.153 pengguna paylater berusia 21–42 tahun di 10 kota mengungkapkan, 59 persen responden memanfaatkan layanan ini untuk membantu mengatur keuangan. Sementara itu, 41,1 persen menggunakannya saat dana tidak mencukupi dan 40 persen tertarik karena promosi atau cashback.
Beragam alasan tersebut menunjukkan paylater tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk memanfaatkan penawaran belanja. Jika tidak disertai perencanaan, kemudahan transaksi justru dapat mendorong pembelian impulsif.
Salah satu pengguna paylater, Dika, mengakui layanan tersebut mempermudah transaksi. Meski begitu, ia menilai pengguna tetap harus memperhitungkan kemampuan membayar sebelum berbelanja.
“Paylater itu memang memudahkan kalau mau membeli sesuatu, tetapi tetap harus melihat kemampuan untuk membayarnya,” ujar Dika, Sabtu (24/10/2026).
Risiko muncul ketika paylater digunakan untuk memenuhi keinginan di luar kebutuhan utama. Promosi dan proses pembayaran yang praktis bisa membuat pengguna berbelanja tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan maupun tagihan yang akan datang.
Pengguna juga perlu mencermati total cicilan, bunga, biaya layanan, serta denda keterlambatan jika berlaku. Terlebih, penggunaan beberapa layanan paylater sekaligus dapat membuat beban pembayaran bulanan semakin berat.
Karena itu, generasi muda perlu lebih disiplin membedakan kebutuhan dan keinginan. Paylater seharusnya digunakan secara terukur, bukan menjadi alasan untuk berbelanja di luar kemampuan finansial.
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 16 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




