TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Jadwal Imsak
Dewan Pers

Siswa SMAN 1 Tangsel Dibekali Pengetahuan Cegah Radikalisme & Kekerasan

Reporter: Idral Mahdi
Editor: Redaksi selected
Selasa, 20 Januari 2026 | 07:45 WIB
Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror (AT) Polri bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan radikalisme di lingkungan pelajar.
Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror (AT) Polri bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan radikalisme di lingkungan pelajar.

CIPUTAT-Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror (AT) Polri bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) melaksanakan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan radikalisme di lingkungan pelajar. 

 

Kegiatan tersebut digelar di SMAN 1 Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (19/1), dan diikuti oleh sebanyak 120 peserta yang terdiri dari perwakilan siswa, pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Majelis Perwakilan Kelas (MPK), serta guru-guru. 

 

 Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan anak-anak serta remaja terhadap berbagai bentuk paham kekerasan, radikalisme, dan ekstremisme yang dapat menyasar kalangan pelajar, baik secara langsung maupun melalui media digital.

 

Narasumber dari Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri, Iptu Rudiana Bachrie menyampaikan, bahwa materi yang diberikan dirancang secara komprehensif dan relevan dengan kondisi remaja saat ini.

 

“Materi yang disampaikan meliputi penguatan ideologi kebangsaan, pemahaman proses radikalisasi, peran media sosial dalam penyebaran paham IRET, serta dampak bullying sebagai pemicu perilaku kekerasan pada anak dan pelajar,” ujar Iptu Rudiana Bachrie. 

 

Ia menjelaskan, bahwa proses radikalisasi sering kali terjadi secara bertahap dan tidak disadari, dimulai dari paparan konten negatif, ujaran kebencian, hingga ajakan yang membenarkan kekerasan atas nama ideologi tertentu.

 

 Selain itu, para peserta juga dibekali pemahaman tentang pentingnya literasi digital, terutama dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial agar tidak mudah terprovokasi atau terpengaruh oleh konten bermuatan ekstremisme.

 

 Rudiana menambahkan, bahwa anak-anak dan pelajar memiliki peran penting sebagai agen perdamaian di lingkungan sekolah dan pergaulan sehari-hari.

 

“Peserta diajak untuk berpikir kritis sebelum percaya dan membagikan konten, menolak bullying, memilih pergaulan positif, menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, serta berani melapor kepada guru atau orang dewasa tepercaya,” jelasnya.

 

Menurutnya, bullying yang dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi pintu masuk munculnya perilaku agresif dan kekerasan, sehingga perlu dicegah sejak dini melalui kesadaran bersama.

 

Kegiatan sosialisasi berlangsung secara interaktif dengan diskusi dan tanya jawab, sehingga peserta dapat menyampaikan pandangan, pengalaman, serta pertanyaan terkait isu kekerasan dan radikalisme di kalangan remaja.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit