Keren, WBP Perempuan Rutan Pandeglang Produksi Kerajinan Tangan Berkualitas
Mulai dari Tas, Dompet, Gantungan Kunci, Peci hingga Kotak Tisu
PANDEGLANG - Udara dingin menembus jaket hingga perlahan menyentuh lembut ke kulit saat wartawan tangselpos.id melakukan liputan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pandeglang, Kamis (22/1/2026) sore. Hari itu hujan hampir tidak berhenti sejak pagi, udara cukup dingin sekitar 25 derajat Celcius. Kepala Rutan Kelas IIB Pandeglang, Raden Achmad Zaki mengajak berkeliling rutan, termasuk melihat proses pembuatan berbagai produk hasil kerajinan tangan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan.
Di ruangan ruangan yang tidak begitu luas namun nyaman, terlihat empat WBP perempuan dengan duduk saling berhadapan. Tangan mereka begitu lincah merajut tiap helai benang berwarna-warni untuk dijadikan berbagai produk kerajinan tangan. Tidak hanya merajut, mereka juga terlihat membuat gantungan kunci/tas dengan karakter nama dan boneka kecil.
Produk asli WBP perempuan yang dimulai beberapa tahun terakhir ini menjadi bagian dari kegiatan mereka selama menjalani proses hukum. Di lemari dan rak, tersusun dengan cantik tas tangan rajut, peci rajut, gelang tangan, gantungan kunci, dompet, kotak tisu dan aksesoris kecil lainnya yang semuanya merupakan karya WBP perempuan.
“Kita tiap hari bikin kerajinan, seperti peci, tas, gelang, bunga, dompet dan lainnya. Ini dilakukan untuk mengisi waktu luang dan lumayan menjadi tambahan penghasilan bagi kami selama di sini,” ujar Weni (40), salah satu WBP perempuan, membuka obrolan dengan wartawan.
Wanita berkacamata ini mengaku, senang bisa mendapatkan keterampilan baru selama berada di Rutan Pandeglang. Tentu selain bisa mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif, juga tentunya ada tambahan penghasilan. Hasil kerajinan tersebut dijual mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah. “Keterampilan ini bisa jadi modal kami setelah selesai di sini. Jadi nantinya kami bisa lebih berdaya, kreatif dan inovatif,” katanya.
Iis Yutapiah, Bagian Keamanan di Blok WBP Perempuan, menceritakan berbagai produk kerajinan tangan ini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk di luar. Kata dia, meski produknya cukup bagus secara kualitas namun kendala yang dihadapi adalah pemasaran yang masih terbatas serta pengemasan yang cukup sederhana.
“Produk sudah banyak keluar dan memang masih sebatas pemda (pemerintah daerah, red) yang beli atau keluarga napi saat membesuk. Kita belum jual luas ke masyarakat dan inginnya sih penjualan lebih luas biar semakin terkenal,” ucap Iis.
Selain tugasnya untuk mengawasi para WBP perempuan, ia juga selalu memberikan motivasi kepada warga binaan untuk terus produktif selama menjalani proses hukum. “Alhamdulillah mereka meski sedang dalam proses hukum tapi tetap bisa berkarya. Kita fasilitasi modalnya, pemasaran dan hasilnya kita bagi bersama,” katanya.
Kepala Rutan Kelas IIB Pandeglang, Raden Achmad Zaki menyampaikan, ia melakukan pendekatan humanis kepada seluruh WBP. Menurutnya, semua WBP memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan warga lainnya.
Misal, kata dia, pihaknya tetap memberikan hak pendidikan kepada WBP yang belum menyelesaikan pendidikan hingga sekolah menengah atas melalui penyediaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang didatangkan ke Rutan.
“Saya sebagai orang baru di sini (Rutan Kelas IIB Pandeglang, red) mencoba beradaptasi dan mengedepankan sisi humanisme. Para warga binaan yang perempuan kita berikan kegiatan pembuatan kerajinan tangan, namun untuk warga bina yang laki-laki belum ada. Kita tengah penjajakan ke pemda, mungkin ada program yang bisa disinergikan dengan Rutan,” terangnya.(*)
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 16 jam yang lalu
Pos Banten | 16 jam yang lalu


