AS Siapkan Opsi Serangan Militer, Iran Tetapkan Status Siaga Tinggi
IRAN - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu, memicu peningkatan tensi di kawasan Timur Tengah. Pemerintah AS kini dikabarkan telah menyiapkan sejumlah opsi militer, sementara Iran merespons dengan menetapkan status siaga satu bagi militernya.
Menurut laporan media AS, Presiden Donald Trump telah menerima paparan dari Komando Pusat AS (CENTCOM) terkait langkah-langkah militer yang dapat diambil. Paparan tersebut disampaikan oleh Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper.
Dalam skenario yang disiapkan, terdapat tiga opsi utama. Pertama, serangan cepat dan intensif yang menargetkan infrastruktur strategis Iran, dengan tujuan menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan, khususnya terkait program nuklir.
Opsi kedua adalah penguasaan sebagian Selat Hormuz guna menjamin kelancaran jalur distribusi energi dan perdagangan internasional. Sementara itu, opsi ketiga mencakup operasi darat terbatas oleh pasukan khusus untuk mengamankan cadangan uranium yang telah diperkaya milik Iran.
Di sisi lain, dinamika politik domestik AS turut memengaruhi langkah ini. Berdasarkan War Powers Act, operasi militer tanpa persetujuan Kongres hanya dapat berlangsung selama 60 hari. Pemerintah AS berargumen bahwa masa gencatan senjata sebelumnya menghentikan sementara perhitungan tenggat tersebut.
Washington juga menegaskan bahwa kesepakatan damai hanya akan tercapai jika Iran menghentikan program nuklirnya sepenuhnya.
Menanggapi hal ini, Iran menunjukkan sikap tegas. Komandan Angkatan Udara Iran, Majid Mousavi, menyatakan bahwa negaranya siap membalas setiap serangan yang dilancarkan AS.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz dan menolak kehadiran kekuatan asing di kawasan tersebut. Ia bahkan menyampaikan peringatan keras terhadap intervensi pihak luar.
Sementara itu, penasihat senior Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa militer negaranya telah berada dalam status siaga satu. Ia memperingatkan bahwa setiap agresi akan berujung pada konsekuensi besar, termasuk potensi serangan terhadap aset militer AS di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Ketegangan ini mencerminkan semakin tipisnya peluang diplomasi, dengan kedua pihak kini berada di ambang eskalasi konflik yang lebih luas.
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 14 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu



