TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah Tertahan di Level Rp17.800

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 29 Mei 2026 | 08:39 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan. Dalam perdagangan pasar spot pada Kamis (28/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.846 per dolar AS atau melemah 0,25 persen dibanding sehari sebelumnya yang berada di posisi Rp17.801 per dolar AS.


Berbagai langkah sebenarnya sudah ditempuh Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menahan pelemahan mata uang Garuda. Namun, hingga kini hasilnya belum signifikan.


BI bahkan mengeluarkan sederet kebijakan agresif, mulai dari menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen, melakukan intervensi pasar valuta asing (valas), menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memperluas transaksi Local Currency Transaction (LCT), hingga memperkuat aturan devisa dan pengelolaan likuiditas rupiah.


Sementara itu, Kemenkeu juga aktif menjaga stabilitas pasar keuangan melalui intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), pengaktifan Bond Stabilization Fund (BSF), serta penggelontoran dana ke pasar obligasi dengan target mencapai Rp2 triliun per hari.


Meski begitu, tekanan terhadap rupiah belum mereda. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sangat dipengaruhi arus keluar dolar AS dari Indonesia.

 

“Tekanan utama saat ini berasal dari meningkatnya kebutuhan dolar AS, sementara pasokannya menurun,” ujar Yusuf kepada Redaksi. 


Data Bank Indonesia mencatat neraca pembayaran Indonesia pada kuartal I-2026 mengalami defisit hingga 9,15 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat tajam dibanding kuartal IV-2025 yang sekitar 6 miliar dolar AS.
Tak hanya itu, transaksi berjalan juga berbalik dari surplus 2,5 miliar dolar AS menjadi defisit 4 miliar dolar AS atau sekitar 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


“Dalam satu kuartal terjadi perubahan sekitar 6,5 miliar dolar AS. Itu bukan angka kecil,” kata Yusuf.


Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan fundamental eksternal Indonesia sedang menghadapi tekanan serius. Meski ekonomi domestik masih tumbuh, nilai tukar rupiah tetap rentan jika kebutuhan dolar AS lebih besar dibanding pasokannya.


Dari sisi devisa, surplus perdagangan juga mengalami penurunan dari sekitar 10,2 miliar dolar AS menjadi 8 miliar dolar AS akibat melambatnya permintaan ekspor dari negara mitra dagang.


Di saat bersamaan, pembayaran keuntungan dan bunga kepada investor asing meningkat sehingga memperlebar defisit pendapatan primer.
“Kalau disederhanakan, dolar AS yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Itu inti persoalannya,” jelas Yusuf.


Ia menilai langkah BI dan Kemenkeu sejauh ini sudah berada di jalur yang benar. Namun, kebijakan tersebut lebih bersifat meredam gejolak jangka pendek, belum menyentuh akar persoalan utama.


Menurut Yusuf, pemerintah perlu memastikan devisa hasil ekspor benar-benar masuk dan disimpan di dalam sistem keuangan domestik agar pasokan dolar AS tetap terjaga.
“Secepat apa pun intervensi BI, kalau suplai dolar AS terus menipis, tekanan terhadap rupiah akan tetap muncul,” katanya.


Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menambahkan bahwa stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan BI. Dibutuhkan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang seimbang serta komunikasi kebijakan yang solid.


“Pasar harus diyakinkan bahwa BI dan Kemenkeu bergerak dalam arah yang sama. Koordinasi kebijakan menjadi sangat penting,” ujar Fakhrul.


Menurut dia, pasar juga ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang agar tekanan tidak sepenuhnya dibebankan kepada rupiah dan BI semata.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit