TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Kisah Nursiah, Warga Batuceper Berangkat Haji Seorang Diri

Reporter & Editor : Redaksi
Rabu, 03 Juni 2026 | 09:00 WIB
Nursiah baru saja pulang kembali ke Tanah Air pada Kloter 1 di Kota Tangerang usai menunaikan ibadah haji. ISTIMEWA
Nursiah baru saja pulang kembali ke Tanah Air pada Kloter 1 di Kota Tangerang usai menunaikan ibadah haji. ISTIMEWA

TANGERANG — Kepulangan jemaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 1 asal Kota Tangerang menyisakan beragam kisah haru. Salah satunya datang dari Nursiah (65), warga RT01/03 Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, yang akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji seorang diri setelah sang suami meninggal dunia sebelum sempat berangkat ke Tanah Suci.

 

Nursiah tiba kembali di Tanah Air dengan membawa rasa syukur mendalam. Penantian selama lebih dari satu dekade untuk menunaikan rukun Islam kelima itu akhirnya terwujud, meski harus dijalani tanpa pendamping yang sejak awal mendaftar haji bersamanya.

 

Perempuan lanjut usia itu mengisahkan, dirinya dan sang suami mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2013. Keduanya rela menunggu antrean panjang sambil menyimpan harapan dapat berangkat bersama ketika jadwal keberangkatan tiba. Namun harapan itu pupus setelah suaminya meninggal dunia pada 2021. “Kita niat baik, Allah berkehendak lain,” kata Nursiah saat ditemui usai kepulangan jemaah haji Kloter 1 Kota Tangerang.

 

Kepergian suaminya menjadi pukulan berat bagi Nursiah. Ia masih mengingat dengan jelas detik-detik terakhir sang suami sebelum mengembuskan napas terakhir saat menghadiri sebuah acara walimatul arus. Menurut dia, ketika itu suaminya baru saja menyelesaikan pembacaan rawi dalam acara tersebut. Tidak lama kemudian, sang suami tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia.

 

“Habis baca rawi. Orang walimatul arus. Baca rawi, kata saya, ‘Pak Nasrul, itu baca rawinya error?’ ‘Kagak, Mpok, beres,’ kata dia. Terus dia mau nyendok nasi, tiba-tiba dia begitu, akhirnya meninggal,” kenangnya. Setelah kehilangan pasangan hidupnya, Nursiah sempat berupaya mencari anggota keluarga yang dapat menggantikan posisi pendamping saat berhaji. Namun dari lima anak yang dimilikinya, tidak ada yang siap mendampinginya ke Tanah Suci.

 

Meski sempat berharap ada salah satu anak yang bisa berangkat bersamanya, ia akhirnya memutuskan tetap melanjutkan perjalanan seorang diri. “Sudah saya tanya yang paling tua, yang pernah, yang mau nemenin saya nggak. Nggak pada mau,” ujarnya.

 

Nursiah mengaku memahami kondisi anak-anaknya. Ia menduga mereka belum memiliki kesiapan biaya tambahan untuk mendampingi dirinya selama menjalankan ibadah haji. “Mungkin belum ada buat pegangan, belum ada bekal tambahan,” tuturnya.

 

Keputusan berangkat sendiri bukan perkara mudah. Namun perempuan berusia 65 tahun itu memilih bertawakal dan meyakini bahwa kesempatan berhaji yang telah lama ditunggu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Pengalaman menjalani ibadah umrah seorang diri pada 2023 menjadi bekal berharga yang menumbuhkan kepercayaan dirinya. “Ya saya umrah sendiri juga. Tapi alhamdulillah bisa bawa koper sendiri, tawaf sendiri saya,” katanya.

 

Setibanya di Madinah, Nursiah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memperbanyak ibadah. Ia berhasil menyelesaikan salat Arbain dan mengkhatamkan Alqur’an berkali-kali selama berada di Kota Nabi. Menurut dia, kesempatan menjadi tamu Allah SWT merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara maksimal. “Sampai khatam 11 kali di Madinah, masuk Arbain dapat,” ujarnya.

 

Semangat ibadah itu berlanjut ketika berada di Makkah. Meski sempat mengalami gangguan kesehatan berupa pilek, Nursiah tetap melanjutkan tadarus hingga kembali mengkhatamkan Alqur’an beberapa kali. “Alhamdulillah saya kejar 40 Arbain bisa. Terus ke Makkah langsung saya tadarus. Sampai dapat empat kali khatam saya, alhamdulillah,” katanya.

 

Di tengah seluruh rangkaian ibadah yang dijalani, Nursiah mengaku tidak pernah melupakan sosok suaminya. Setiap kesempatan beribadah di Tanah Suci dimanfaatkannya untuk mendoakan almarhum. Kerinduannya kepada sang suami diwujudkan dengan menghadiahkan pahala ibadah-ibadah sunah yang dilakukan selama berhaji. “Saya tawaf sunah, tawaf wajib, sa’i sunah, sa’i wajib. Yang sunah saya niatin buat suami,” ungkapnya.

 

Selama menjalani puncak ibadah haji hingga menyelesaikan tawaf ifadah dan tawaf wada, kondisi kesehatannya relatif baik. Keluhan justru muncul menjelang kepulangan ke Indonesia. Saat hendak menuju pesawat, Nursiah mengalami pilek disertai mual dan muntah. Kondisi serupa kembali terjadi ketika pesawat hampir mendarat di Tanah Air. “Tadi ini berangkat kemarin pilek lagi, jadi muntah-muntah saya. Pas mau ke pesawat, muntah. Setelahnya tinggal dua jam mendarat, muntah lagi,” ujarnya.

 

Meski demikian, ia tetap bersyukur karena seluruh rangkaian ibadah haji berhasil diselesaikan tanpa hambatan berarti. Bagi Nursiah, keberhasilan menuntaskan ibadah haji seorang diri di usia senja merupakan karunia besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Penantian panjang selama 13 tahun, kehilangan pasangan hidup, hingga perjalanan jauh ke Tanah Suci akhirnya berujung pada rasa syukur.

 

“Ya itu saya banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Arbain bisa, khatam Quran bisa, salatnya bisa. Tawaf ifadah, tawaf wada bisa saya. Beres sudah semua,” tuturnya. Kisah Nursiah menjadi salah satu cerita keteguhan hati di balik kepulangan jemaah haji Kota Tangerang tahun ini. Di tengah kehilangan dan kesendirian, ia berhasil menunaikan impian yang pernah dirajut bersama suaminya, sembari membawa doa dan kerinduan untuk pasangan hidup yang telah lebih dahulu berpulang.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit