Kasus Tuberculosis Tinggi, STIKES Salsabila Serang Gandeng Apoteker untuk Aktif Menjadi Agen Promotif dan Preventif
SERANG - Indonesia menempati posisi kedua di dunia setelah India atas kasus penyebaran penyakit Tuberkulosis (TB). Atas kondisi tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Salsabila, Serang mengambil peran dalam bagian salah satu pengamanan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan program deteksi dini TB berbasis apotek komunitas. Kegiatan yang dilaksanakan di Kampus STIKES Salsabila, Kota Serang, Rabu (3/6/2026) ini diharapkan mampu memberikan pemahaman lebih bagi para apoteker terhadap penyebaran kasus TB di lingkungannya. Sebab, apoteker merupakan profesi yang dekat dengan masyarakat dalam hal penyediaan dan pelayanan pengobatan, termasuk salah satunya pengobatan TB.
Ketua STIKES Salsabila Serang, Fathiyati mengatakan, hingga saat ini penyakit TB masih menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat, tidak hanya pada tingkat nasional bahkan pada skala global. "Kenyataan yang lebih menantang adalah adanya fenomena missing cases, yaitu banyaknya kasus TB yang aktif di masyarakat namun belum berhasil ditemukan, belum terdiagnosis atau belum dilaporkan ke dalam sistem kesehatan nasional," ujar Fathiyati, dalam acara sosialisasi.
Ia menjelaskan, kesenjangan itu berdampak fatal terhadap keterlambatan penanganan klinis pasien dan memicu rantai penularan yang tidak terputus di tengah komunitas atau masyarakat. Oleh karena itu, penemuan kasus secara aktif atau active case finding menjadi pilar utama yang mendesak. "Di sinilah letak urgensi dari Program Enhance (Engaging Community Pharmacy in Tuberculosis Case Detection, red) yang kita luncurkan hari ini," terangnya.
Di menjelaskan, melalui skema penelitian kerja sama antar perguruan tinggi yang didukung penuh oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, STIKES Salsabila Serang bersama dengan Universitas Padjadjaran dan Universitas Hasanuddin Makassar, hadir untuk memberikan solusi nyata yang aplikatif dan berbasis bukti ilmiah (evidence based). "Apotek komunitas memiliki posisi yang sangat strategis sebagai garda terdepan sistem pelayanan kesehatan masyarakat," ujarnya.
Fathiyati mengatakan, berdasarkan hasil study patient pathway analysis membuktikan bahwa lebih dari 40 persen masyarakat yang mengalami keluhan respirasi awal, seperti batuk berkepanjangan, memilih apotek sebagai titik kontak pertama atau first point of contact sebelum mereka memutuskan pergi ke rumah sakit atau puskesmas. "Melalui program Enhance, kami ingin mengoptimalkan peran vital apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) di apotek tidak hanya sekadar sebagai penyedia obat, tetapi bertransformasi aktif sebagai agen promotif dan preventif melalui skrining gejala dan sistem rujukan terintegrasi," katanya.
Dia menerangkan, implementasi program tersebut mengusung pendekatan Public-Private Mix (PPM) yang kokoh. Dengan begitu, Apoteker bisa membangun kolaborasi yang mensinergikan pelayanan kefarmasian di sektor swasta atau apotek komunitas dengan fasilitas pelayanan kesehatan primer milik pemerintah khususnya Puskesmas Kota Serang dan Puskesmas Kilasah, di bawah binaan langsung Dinas Kesehatan Kota Serang serta dukungan penuh dari IAI Kota Serang. "Jejaring yang kuat ini memastikan bahwa setiap suspek TBC yang berhasil disaring di apotek dapat langsung dirujuk ke Puskesmas secara cepat, mendapatkan konfirmasi diagnosis melalui Tes Cepat Molekuler (TCM), hingga mendapatkan pengobatan yang standar dan tuntas," katanya.
Selain fokus pada luaran penemuan kasus, penelitian implementasi ini secara komprehensif juga akan melakukan analisis farmakoekonomi, khususnya analisis efektivitas biaya (cost effectiveness analysis). "Keterlibatan apotek dalam deteksi dini TBC tidak hanya efektif dalam menjaring kasus yang hilang, tetapi juga sangat efisien secara pembiayaan kesehatan, sehingga layak untuk direplikasi dan ditingkatkan skalanya di tingkat provinsi maupun nasional demi menyongsong eliminasi TBC tahun 2030," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Ahmad Hasanudin mengapresiasi terhadap STIKES Salsabila yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurut dia, kegiatan ini menjadi bagian kolaborasi dunia pendidikan dengan pemerintah dalam upaya menyelesaikan kasus TB, terutama di Kota Serang yang saat ini mencapai 4.343 kasus. "Kegiatan ini sangat bagus dan saya ucapkan terima kasih kepada STIKES Salsabila yang sudah peduli terhadap penanganan kasus TB, semoga melalui kegiatan ini bisa mengeliminasi kasus TB terutama di Kota Serang. Ini ada dua jempol, kalau bisa saya acungkan empat jempol buat STIKES Salsabila," ungkap Hasanudin, seraya mengangkat dua jempolnya.
Dirinya mengakui, selama ini cukup kesulitan dalam melakukan deteksi dini penyebaran penyakit TB, karena masyarakat banyak yang belum mengetahui gejala awalnya. Sehingga, banyak masyarakat hanya membeli obat batuk biasa tanpa melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan. "Batuknya hilang tapi timbul lagi, nah dalam waktu satu bulan pasien tambah parah dan TB semakin menular, bahkan ada satu jamaah haji asal Kota Serang batal berangkat karena terkena TB," katanya.
Hasanudin berpendapat, apoteker memiliki peran penting dalam mendeteksi dini penyebaran virus TB dan bisa menyampaikan kepada masyarakat agar segera melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan melalui fasilitas kesehatan yang ada. "Apoteker menyampaikan kepada asisten, kemudian asisten menyampaikan kepada orang diduga kena TB agar berobat ke fasilitas kesehatan," katanya.
"Kenapa TB sulit diselesaikan, saya sering sampaikan agar tuntaskan imunisasi, jangankan yang tidak divaksin, karena yang divaksin pun bisa kena. Kalau rantai vaksin itu tidak bagus manajemennya, bisa mengganggu vaksinasi atau tidak berfungsi," sambungnya.
Dinkes Kota Serang, kata dia, sudah menyediakan alat khusus untuk mendeteksi penyebaran penyakit TB dan bisa digunakan. Sarana itu menjadi bukti keseriusan Pemkot Serang dalam menyelesaikan penyebaran penyakit TB. "Kita sudah memiliki beberapa alat pendeteksi TBC dan sudah kita sebar di beberapa puskesmas dan rumah sakit di Kota Serang, ini merupakan upaya kita untuk mengatasi penyebaran TB," katanya.
"Kota Serang mendapatkan penghargaan atas penemuan kasus TB melebihi penemuan target dari pusat yaitu 95 persen tapi kita sampai 107 persen orang kena TBC oleh petugas kesehatan 4.343 dari target nasional 3.182 kasus tapi tercapai 4.343 kasus," tutupnya.
Sementara, Prof. Ivan Surya Pradipta, narasumber dalam acara tersebut mengatakan, di Indonesia terdapat sekitar 1,1 juta penderita TB dan yang sudah terlaporkan atau terdeteksi di angka 77 persen. "Nah tidak terdeteksi ini bisa jadi tidak teregister, atau memang benar-benar tidak diketahui tenaga kesehatan, nah ini yang berat," ungkap akademisi Universitas Padjadjaran ini.
Dia menerangkan, TBC masih dianggap sebagai penyakit yang kotor dan stigma ini menjadikan masyarakat tidak berani untuk melaporkan atau berobat. "Kemudian dukungan keluarga juga, karena biasanya kalau ada yang terkena TB suka dipisahkan dengan keluarganya," pungkasnya.(*)
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 15 jam yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



