Kenaikan Harga BBM Turut Mengubah Perilaku Masyarakat, Pertamax Mulai Ditinggalkan dan Beralih ke Pertalite
PANDEGLANG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 1 Juni lalu turut mengubah perilaku masyarakat dalam memilih BBM untuk kendaraannya. Jika sebelumnya masyarakat masih memilih BBM jenis Pertamax (RON 92), kini tidak sedikit masyarakat beralih ke jenis Pertalite yang merupakan BBM subsidi yang dijual Rp 10.000 per liter. Hal itu dilakukan karena Pertamax mengalami kenaikan harga Rp 3.950 dari sebelumnya Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
Ujang, salah satu pengendara mobil niaga jenis bak terbuka, mengaku tidak sanggup jika harus membeli Pertamax untuk mobil angkutan galon miliknya. Pria paruh baya ini mengaku, beruntung BBM jenis Pertalite masih di harga Rp 10.000 per liter, karena masih terjangkau. “Ngisi Pertalite juga tidak banyak paling Rp 50.000 sampai Rp 100.000, asal jalan saja. Karena usaha ini (galon isi ulang, red) untungnya (bruto, red) tidak besar hanya Rp 2.000 per galon, belum untuk biaya ini itu jadi untungnya berkurang,” kata Ujang, saat ditemui di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34.42204 Cipacung, Kabupaten Pandeglang, Kamis (11/6/2026) sore.
Adi, pengendara sepeda motor mengaku, harus memperketat biaya BBM untuk kendaraannya. Jika sebelumnya masih bisa menggunakan Pertamax, tetapi setelah harganya cukup tinggi maka terpaksa harus beralih ke Pertalite. “Kalau sebelum naik, harga antara Pertamax dengan Pertalite tidak terlalu jauh. Tapi saat ini harganya terpaut jauh, jadi kalau punya uang Rp 20.000 bisa dapat pertalite dua liter, kalau isi Pertamax cuma satu liter lebih sedikit,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan harga BBM ini cukup berdampak terhadap kondisi keuangan keluarga. Apalagi belum BBM naik, harga komoditas lainnya juga turut naik dampak dari konflik global, naiknya harga Dolar serta turunnya harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). “Cukup tertekan juga, penghasilan tidak menunjukan adanya kenaikan sementara harga-harga kebutuhan pokok dan lainnya tidak mau kompromi. Dampaknya sangat terasa, terutama bagi karyawan swasta seperti saya ini,” pungkasnya.
Sementara, Rahmat Hidayat, Pengawas di SPBU 34.42204 Cipacung, Kabupaten Pandeglang, mengatakan meski tidak terlalu signifikan terdapat pergeseran konsumsi pengendara dari yang sebelumnya masih memilih Pertamax, kini bergeser memilih Pertalite. “Semenjak adanya perubahan harga untuk beberapa jenis BBM non subsidi pada 10 Juni lalu memang permintaan untuk Pertalite cukup tinggi, mungkin karena yang awalnya Pertamax beralih ke Pertalite yang masih murah,” ujar Rahmat.
Meski ada permintaan yang sedikit lebih tinggi terhadap Pertalite, pihaknya memastikan ketersediaan BBM jenis Pertalite masih aman. Karena setiap hari pihaknya selalu mendapat kiriman BBM dari Pertamina Patra Niaga sesuai dengan jumlah pesanan. Kata dia, untuk jenis Pertalite jumlah pesanan di angka 16.000 dan Pertamax 8.000 liter. Bahkan sejak terjadi kenaikan harga BBM, tidak nampak antrean kendaraan terutama sepeda motor di jalur Pertalite. “Di SPBPU kita ini hanya menjual empat jenis BBM, yakni Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Dari empat itu yang permintaannya paling tinggi itu cuma Pertalite dan Pertamax,” ungkapnya.(*)
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu


