Rupiah Menguat ke Rp17.800 dan IHSG Tembus 6.000, Sinyal Kepercayaan Investor ke Indonesia Kembali Menguat
JAKARTA— Sentimen positif kembali menyelimuti pasar keuangan nasional. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat pada perdagangan Jumat (12/6/2026), mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Rupiah ditutup menguat 128 poin ke level Rp17.860 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.988 per dolar AS. Penguatan ini sudah terlihat sejak awal perdagangan dengan kenaikan sekitar 0,29 persen.
Pergerakan positif juga terjadi di pasar saham. IHSG melonjak 121,62 poin atau 2,07 persen dan ditutup di level 6.007,66, setelah sebelumnya dibuka menguat ke posisi 5.960.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan apresiasi kepada para pelaku pasar dan investor yang tetap menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia, terutama terhadap saham-saham BUMN.
Menurut Dony, kontribusi emiten pelat merah terhadap penguatan IHSG menjadi bukti bahwa transformasi dan penguatan fundamental bisnis BUMN mulai mendapat pengakuan dari pasar.
“Pencapaian ini bukan sekadar respons jangka pendek, tetapi mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap tata kelola yang lebih baik, efisiensi operasional, dan strategi pertumbuhan yang dijalankan,” ujarnya.
Ia menilai, stabilitas ekonomi dan pasar keuangan yang terjaga menjadi modal penting dalam menarik investasi berkualitas sekaligus memperkuat daya saing nasional.
Dampaknya, lanjut Dony, tidak hanya dirasakan pelaku pasar, tetapi juga masyarakat melalui terjaganya daya beli, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta terbukanya peluang kerja dari masuknya investasi baru.
Momentum positif ini juga ditopang sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen.
Bank Indonesia mencatat mulai terjadinya arus masuk modal asing ke instrumen domestik, terutama pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan investor asing merespons positif bauran kebijakan yang ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar dan daya tarik investasi nasional.
Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menilai penguatan rupiah menjadi sinyal bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih dipandang solid di tengah tekanan global.
Dunia usaha pun mendorong peningkatan investasi dan ekspor agar penguatan rupiah tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi berkelanjutan melalui peningkatan arus devisa dan aktivitas ekonomi nasional.
“Optimisme harus terus dijaga agar momentum pemulihan ini dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” ujarnya.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu


