TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Menolak Kaku : Menakar Ulang Pancasila di Tangan Gen Z

Oleh: Aldi Achmad Rivaldi Fakultas Hukum, UNPAM Serang
Editor: Redaksi
Minggu, 14 Juni 2026 | 21:58 WIB
Aldi Achmad Rivaldi. Foto : Dok. Pribadi
Aldi Achmad Rivaldi. Foto : Dok. Pribadi

SERANG - Pancasila sering kali dihadirkan dalam ruang kelas sebagai teks hafalan yang sakral, kaku, dan berjarak. Setiap hari Senin, butir-butirnya dirapalkan, namun setelah sirine upacara berakhir, ia kerap tertinggal di lapangan sekolah. Bagi Generasi Z (Gen Z), mereka yang lahir di ceruk digital antara tahun 1997 hingga 2012. Pancasila menghadapi tantangan eksistensial yang besar. Di era di mana algoritma media sosial lebih cepat membentuk lanskap berpikir ketimbang penataran formal, bagaimana sebenarnya dinamika perkembangan ideologi bangsa ini di mata generasi termuda?

 

1. Latar Belakang: Ideologi di Pusaran Arus Digital
Gen Z adalah digital natives pertama yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet. Karakteristik utama generasi ini adalah inklusif, menghargai keberagaman, skeptis terhadap otoritas yang kaku, dan sangat ekspresif di ruang digital.

 

Di satu sisi, nilai-nilai bawaan Gen Z ini sangat "Pancasila banget." Mereka toleran terhadap perbedaan (Sila ke-3) dan punya kepedulian sosial yang tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan (Sila ke-2). Namun, dinamisnya dunia modern membuat internalisasi Pancasila tidak bisa lagi menggunakan gaya lama. Narasi doktrinal yang bersifat top-down (dari atas ke bawah) justru memicu resistensi dari generasi yang terbiasa dengan dialog setara.

 

2. Data dan Permasalahan: Tantangan Nyata di Lapangan
Realitas di lapangan menunjukkan adanya jurang (gap) yang cukup mengkhawatirkan. Pancasila hari ini kerap mengalami tantangan multidimensi di kalangan anak muda:

 

a). Krisis Kedalaman Konten: Berdasarkan survei Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) beberapa tahun terakhir, mayoritas anak muda memang mengaku setia pada Pancasila. Namun, kesetiaan ini sering kali berada di level permukaan. Pancasila dipahami sebagai simbol, bukan sebagai metodologi penyelesaian masalah (problem-solving tool).

 

b). Polarisasi dan Riak Digital: Ruang digital Gen Z hari ini dipenuhi oleh paparan radikalisme online, paham ekstrem kiri maupun kanan, serta individualisme ekstrem. Menurut data internal berbagai lembaga riset digital, algoritma media sosial cenderung menciptakan echo chamber (ruang gema) yang memperuncing polarisasi. Sila ke-4 (Musyawarah) sering kali mati di kolom komentar Instagram, TikTok, atau X (Twitter), berganti menjadi aksi saling menghujat (cyberbullying dan cancel culture).

 

c). Komunikasi yang Usang: Metode penyampaian nilai Pancasila dari lembaga formal sering kali dinilai membosankan, terlalu birokratis, dan kehilangan relevansi kontekstual dengan isu-isu modern yang dihadapi Gen Z, seperti mental health, ketimpangan ekonomi, dan keadilan iklim.

 

3.Saran Solusi dan Pendapat Pribadi: Membumikan Pancasila via "Gaya Hidup"
Melihat dinamika ini, saya berpendapat bahwa Pancasila tidak boleh lagi diajarkan sebagai dogmatisme politik, melainkan harus diterjemahkan sebagai gaya hidup (lifestyle) yang keren dan solutif.

 

Untuk menjembatani Pancasila dengan Gen Z, ada beberapa solusi taktis yang bisa diambil:
a). Re-desain Komunikasi Konten:
Narasi Pancasila harus masuk ke ekosistem yang paling sering dikonsumsi Gen Z. Nilai gotong royong tidak perlu dijelaskan dengan definisi buku teks, melainkan lewat kampanye crowdfunding digital untuk korban bencana atau gerakan aksi bersih-bersih lingkungan yang dikemas estetik di TikTok dan Reels.

 

b). Koneksi dengan Isu Kontemporer: 
Pancasila harus mampu menjawab keresahan Gen Z. Sila ke-5 (Keadilan Sosial) harus dikaitkan dengan advokasi hak-hak pekerja muda (gig economy) atau akses pendidikan yang setara. Sila ke-2 (Kemanusiaan) harus diwujudkan dalam ruang aman bebas kekerasan seksual di kampus. Ketika Gen Z melihat Pancasila "membela" isu mereka, mereka akan merangkulnya secara sukarela.

 

c). Pendekatan Peer-to-Peer: 
Gen Z lebih mendengarkan sesama mereka ketimbang pejabat publik berjas rapi. Negara dan akademisi harus merangkul content creator, komika, musisi, dan aktivis muda untuk menyisipkan nilai-nilai kebangsaan secara subtil (subtle) dan jenaka dalam karya mereka.

 

Pancasila di era modern bukanlah tentang seberapa hafal kita pada 45 butir pengamalannya, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam jempol kita saat berkomentar di media sosial, dan dalam empati kita saat melihat ketidakadilan di dunia nyata. Gen Z tidak membenci Pancasila; mereka hanya butuh Pancasila yang berbicara dengan bahasa yang mereka pahami.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit