TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Dari Buruh Cuci ke Tanah Suci: Nenek Sania Masih Berjuang Melunasi Utang, Pemerintah Hadir Membantu

Oleh: H. Rusmadi RM
Editor: AY
Senin, 22 Juni 2026 | 08:17 WIB
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengunjungi kediaman Nek Sania di Serdang Bedagai pada Sabtu (20/6/2026). Foto : Ist
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengunjungi kediaman Nek Sania di Serdang Bedagai pada Sabtu (20/6/2026). Foto : Ist

SERDANG BEDAGAI - Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, tersimpan kisah perjuangan seorang perempuan lanjut usia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai buruh cuci.


Di usia 72 tahun, perempuan yang akrab disapa Nek Sania itu akhirnya berhasil menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Namun, kebahagiaan sepulang dari Makkah masih diiringi beban yang belum tuntas. Nek Sania diketahui masih memiliki utang yang digunakan untuk membiayai sebagian proses keberangkatannya ke Tanah Suci.


Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, mengunjungi kediaman Nek Sania di Serdang Bedagai pada Sabtu (20/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi jemaah sekaligus mendengar kisah perjuangannya.


Nek Sania merupakan seorang janda yang kini tinggal bersama keluarganya. Selama bertahun-tahun, ia bekerja sebagai buruh cuci demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Keinginan untuk menunaikan ibadah haji telah tumbuh sejak lama. Pada 2014, ia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji dengan dukungan dana dari anak-anaknya.

 

Setelah menunggu lebih dari satu dekade, kesempatan berhaji akhirnya datang pada musim haji 2026. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya harus mencari berbagai cara agar tetap bisa berangkat, termasuk meminjam dana dari sejumlah pihak.


Menurut Dahnil, kisah Nek Sania bukanlah kasus tunggal. Pemerintah masih menemukan sejumlah jemaah dengan kondisi serupa yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
“Ketika saya bertemu langsung, saya melihat kuatnya kerinduan seorang hamba kepada Baitullah. Ada dimensi spiritual yang sering kali tidak bisa diukur hanya dengan logika,” ujarnya.


Ia menambahkan, secara syariat haji diwajibkan bagi mereka yang mampu (istitha’ah). Karena itu, fenomena jemaah yang berutang untuk berhaji kerap menimbulkan pandangan yang beragam di masyarakat.


Meski demikian, menurutnya, hal tersebut juga mencerminkan kuatnya dorongan spiritual sebagian umat dalam mewujudkan impian berhaji.
Pemerintah, kata Dahnil, kini melakukan pendataan terhadap jemaah yang memiliki beban ekonomi setelah kembali dari Tanah Suci, sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI.


“Kami ingin memastikan ada perhatian terhadap mereka yang sudah berjuang untuk berangkat haji, termasuk jika masih memiliki beban ekonomi setelahnya,” ujarnya.


Bagi Nek Sania, perjalanan ke Baitullah mungkin telah selesai. Namun kisahnya menjadi gambaran bahwa bagi sebagian orang, haji bukan hanya soal kemampuan finansial, melainkan juga tentang tekad, doa, dan pengorbanan panjang.

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit