Puluhan Hektare Sawah Terdampak Lumpur, Warga Tak Bisa Bertani Sejak 2024
LEBAK - Puluhan hektare sawah di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, diduga terdampak lumpur yang berasal dari aktivitas perusahaan PT Cemindo Gemilang. Akibatnya, sejak tahun 2024 lalu hingga saat ini wara tak bisa menjalankan aktivitas bertani.
Salah seorang warga, Aliyudin, mengungkapkan, sawah milik warga sudah tidak dapat digarap sejak 2024 lalu hingga 2026. Hal itu kata dia, akibat areal persawahan tertutup material lumpur.
“Lumpur itu dari atas turun ke sawah warga. Setelah itu sawah tidak bisa digunakan. Walaupun sebagian ada yang menggarap, paling hanya lima persen, tidak seperti dulu. Kalaupun digarap, padinya tidak maksimal,” kata Aliyudin kepada awak media, saat dihubungi via panggilan WhatsApp (WA), Senin (3/8).
Menurutnya, areal persawahan yang sebelumnya ditanami padi kini dipenuhi rumput liar dan material lumpur sehingga tidak lagi produktif.
Ia menjelaskan, lumpur diduga berasal dari bendungan penampungan air milik perusahaan yang jebol sehingga material terbawa hingga ke area persawahan warga.
“Di atas tadinya dibuat bendungan. Karena tidak kuat menahan air, bendungan itu jebol dan air bercampur lumpur mengalir ke sawah warga,” katanya.
Selain tidak dapat menggarap sawah, warga juga mengaku khawatir beraktivitas di sekitar lokasi, karena takut terjadi longsor saat musim hujan maupun akibat aktivitas blasting atau peledakan batuan tambang.
“Kalau musim hujan takut longsor dari atas. Warga juga takut saat bekerja atau pergi ke kebun,” keluhnya.
Aliyudin mengungkapkan pihak perusahaan memang telah memberikan kompensasi kepada para pemilik sawah. Namun, nilai kompensasi tersebut dinilai tidak sesuai dengan kerugian yang dialami warga.
“Itu tidak sesuai (kompensasi,red). Apalagi, kalau dihitung dari penghasilan sawah setiap tahun, kompensasinya jauh dari yang dijanjikan,” katanya.
Ia menambahkan, warga telah berulang kali mempertanyakan kejelasan penyelesaian persoalan tersebut kepada pihak perusahaan. Namun hingga kini, menurutnya, belum ada kepastian.
“Sudah ditanyakan, tapi hanya diberi janji-janji. Katanya sawah mau dibeli, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Warga juga bingung karena sawah sudah tidak bisa digarap,” katanya.
Aliyudin menyebut lahan persawahan yang terdampak berada di Desa Pamubulan. Lokasinya diperkirakan hanya berjarak sekitar 600 meter dari area perusahaan.
“Sawahnya di Desa Pamubulan, tetapi mayoritas penggarapnya warga Desa Bayah Timur. Lokasinya dekat karena berada di bawah tebing,” katanya lagi.
Ia juga mengaku pihak perusahaan kerap datang ke lokasi, namun belum ada langkah penyelesaian yang dirasakan warga. “Sebetulnya orang perusahaan sering ke lokasi, cuma mereka seolah-olah tutup mata,” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, masih berupaya mengkonfirmasi pihak PT Cemindo Gemilang terkait dugaan tersebut.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu



