TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

PORPROV 2026

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Hari Wayang Nasional, Menjaga Warisan Budaya Lewat Regenerasi Dalang Muda

Reporter: Redaksi
Editor: AY
Sabtu, 07 November 2026 | 15:16 WIB
Wayang kulit. Foto : Ist
Wayang kulit. Foto : Ist

SERPONG – Peringatan Hari Wayang Nasional setiap 7 November menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian seni pewayangan sekaligus mendorong lahirnya dalang-dalang muda. Regenerasi dinilai penting agar tradisi yang telah diakui dunia ini tidak tergerus perkembangan zaman.


Hari Wayang Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018 pada 17 Desember 2018. Penetapan tersebut bertujuan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap wayang sebagai salah satu warisan budaya bangsa.


Pengakuan dunia terhadap seni pewayangan lebih dahulu diberikan UNESCO pada 7 November 2003. Saat itu, wayang ditetapkan sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Lima tahun kemudian, pada 2008, wayang resmi masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.


UNESCO mencatat, seni pewayangan telah berkembang selama berabad-abad di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Kesenian ini merupakan perpaduan berbagai unsur, mulai dari keterampilan dalang, pembuatan boneka wayang, seni suara, cerita, hingga iringan musik gamelan.


Lebih dari sekadar hiburan, pertunjukan wayang juga menjadi media penyampaian pengetahuan, nilai kehidupan, dan kearifan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, keberlangsungan tradisi tersebut membutuhkan keterlibatan generasi penerus. Salah satu langkah pembinaan dilakukan melalui Festival Dalang Anak ke-19 di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.


Dalam kegiatan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya memperkenalkan seni pedalangan sejak usia dini. Pembinaan terhadap anak-anak diharapkan dapat menumbuhkan minat sekaligus menyiapkan generasi baru yang mampu meneruskan tradisi mendalang.


Di sisi lain, pemanfaatan teknologi juga dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi seni pewayangan untuk menjangkau masyarakat luas. Pertunjukan berbahasa Jawa maupun Sunda, misalnya, dapat dilengkapi teks terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris serta disiarkan melalui platform digital.


Dukungan terhadap komunitas pewayangan dan organisasi pedalangan juga diperlukan untuk memperkuat ekosistem kesenian tersebut. Dengan begitu, pelestarian tidak hanya bertumpu pada penyelenggaraan festival, tetapi juga pembinaan yang berkelanjutan.


Momentum Hari Wayang Nasional menjadi pengingat bahwa pengakuan UNESCO harus diiringi upaya nyata menjaga keberlangsungan tradisi. Regenerasi dalang, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar wayang tetap hidup serta dikenal oleh generasi mendatang.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit