TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Pengamat Ekonomi: Pelemahan Mata Uang Terjadi di Banyak Negara

Oleh: Dr. Surya Vandiantara
Editor: AY
Rabu, 13 Mei 2026 | 08:29 WIB
Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu Dr. Surya Vandiantara. Foto : Ist
Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu Dr. Surya Vandiantara. Foto : Ist

JAKARTA - Pengamat ekonomi Dr. Surya Vandiantara menilai pelemahan nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah negara di kawasan Asia hingga Amerika Latin juga mengalami tekanan serupa akibat menguatnya dolar AS di pasar global.


Menurut Surya, salah satu pemicu utama kondisi tersebut adalah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi itu mendorong investor dan pelaku pasar menjadikan dolar AS sebagai instrumen investasi utama dan aset aman (safe haven).


“Konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor serta pelaku bisnis global lebih memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lain. Tingginya permintaan terhadap dolar AS inilah yang membuat nilainya terus menguat,” ujarnya.


Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah sejak awal konflik AS-Iran tercatat sekitar 3,65 persen. Angka tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan beberapa negara lain, seperti peso Filipina yang melemah 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen. Selain itu, rupee India turun 4,32 persen, peso Chile 4,24 persen, sementara won Korea Selatan melemah 2,29 persen.


Surya menegaskan, pelemahan Rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal ketimbang kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Ia menilai tren global yang mendorong penggunaan dolar AS turut meningkatkan permintaan terhadap mata uang tersebut dan menekan permintaan Rupiah.


“Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif stabil dan positif. Neraca perdagangan dengan Amerika Serikat juga tercatat surplus. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap Rupiah lebih dipicu faktor eksternal, bukan persoalan fundamental ekonomi nasional,” jelas pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu tersebut.


Terkait langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah, Surya menilai kebijakan yang diterapkan BI merupakan strategi jangka pendek yang tepat untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik.


Namun demikian, ia menekankan perlunya dukungan dari seluruh pelaku pasar, termasuk investor dan pelaku usaha, dengan terus menggunakan Rupiah dalam aktivitas transaksi maupun investasi.


“Jika pelemahan Rupiah terus berlangsung, dampaknya akan dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat. Harga bahan baku impor serta alat produksi dari luar negeri akan semakin mahal, sehingga biaya produksi meningkat dan harga jual barang ikut naik,” katanya.


Menurut Surya, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya serap pasar terhadap produk dalam negeri. Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit