TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Menguat, Ekonom Prediksi Pekan Depan Tembus Rp17.500 per Dolar AS

Reporter: Farhan
Editor: AY
Senin, 15 Juni 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih melanjutkan tren penguatan pada pekan depan seiring mulai pulihnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia (BI).


Pada perdagangan Senin (15/6), rupiah menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah menguat hingga menekan dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp17.760 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB. Angka tersebut lebih baik dibanding posisi pembukaan perdagangan yang masih berada di kisaran Rp17.782 per dolar AS.


Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai tren penguatan ini berpotensi berlanjut dan membawa rupiah menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS pada pekan depan.


Menurutnya, pasar mulai menangkap sinyal bahwa arah kebijakan ekonomi nasional semakin jelas dan konsisten dalam menjaga stabilitas makroekonomi.


“Rupiah masih memiliki ruang penguatan menuju kisaran Rp17.500 per dolar AS. Pasar melihat otoritas ekonomi Indonesia mulai menunjukkan keseriusan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mengembalikan kepercayaan investor,” ujarnya.


Fakhrul menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir dipicu kombinasi faktor eksternal dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan domestik. Namun kini, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan.


Ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah saat ini.


Pertama, komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin. Kebijakan tersebut dinilai memberi pesan kuat bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas.


Kedua, penyesuaian harga BBM nonsubsidi—khususnya Pertamax—yang mulai memperbaiki persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional. Meski kebijakan ini tidak populer, investor menilai pemerintah menunjukkan keberanian menjaga keberlanjutan APBN.


Ketiga, langkah efisiensi dan penyesuaian anggaran di sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), mulai dibaca sebagai sinyal penguatan disiplin fiskal.


“Selama beberapa bulan terakhir pasar menunggu bukti bahwa Indonesia siap melakukan normalisasi fiskal. Kini sinyal itu mulai terlihat. BI bergerak lewat kebijakan suku bunga, sementara pemerintah melakukan penyesuaian fiskal. Kombinasi inilah yang menjadi fondasi penguatan rupiah,” jelasnya.


Respons positif pasar mulai terlihat. Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan.


Jika konsistensi kebijakan tetap terjaga dan proses normalisasi fiskal terus berjalan, peluang rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terbaik di kawasan dinilai semakin terbuka.


Selain faktor domestik, perkembangan geopolitik global juga dinilai dapat menjadi katalis tambahan. Membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Iran diperkirakan mampu menurunkan risiko global, memperbaiki sentimen terhadap negara berkembang, serta mengurangi tekanan harga energi.


Untuk pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.450–Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.


Bagi pasar, konsistensi kebijakan bukan lagi soal janji—melainkan bukti nyata yang mulai terlihat.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit