TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

FAO Prediksi Produksi Beras Dunia Menurun, Indonesia Justru Panen Optimisme

Reporter: Farhan
Editor: AY
Minggu, 21 Juni 2026 | 09:09 WIB
Gudang Bulog. Foto : Ist
Gudang Bulog. Foto : Ist

JAKARTA - Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan ancaman krisis pangan global, Indonesia justru mendapat kabar menggembirakan. Saat Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memprediksi produksi beras dunia menurun akibat dampak fenomena El Nino, Indonesia diperkirakan tetap mampu menjaga bahkan meningkatkan produksinya.


Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memperkirakan produksi beras global pada musim 2026/2027 turun sebesar 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton. Padahal pada musim sebelumnya, produksi sempat mencetak rekor tertinggi dengan capaian 561,4 juta ton.


FAO menyebut ketidakpastian cuaca akibat El Nino menjadi faktor utama yang mengganggu produksi di sejumlah negara produsen beras utama. Selain itu, tekanan biaya produksi yang meningkat di tengah melemahnya harga di tingkat petani turut mempersempit keuntungan usaha tani.


Hampir seluruh kawasan dunia diperkirakan mengalami penurunan produksi. Hanya Afrika yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan.
Untuk kawasan Asia, produksi beras diperkirakan tetap berada di level tinggi meski sedikit menurun, dengan total hampir mencapai 496 juta ton atau menjadi capaian tertinggi kedua sepanjang sejarah.


Beberapa negara produsen utama diproyeksikan mengalami penurunan cukup signifikan. India diperkirakan hanya menghasilkan 146,5 juta ton atau turun 3,6 persen dibanding musim sebelumnya. Thailand diprediksi turun 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton, sementara Brasil mengalami penurunan paling tajam hingga 12,9 persen menjadi 7,6 juta ton.


Berbeda dengan tren global tersebut, Indonesia justru diproyeksikan mampu menjaga stabilitas produksi. FAO memperkirakan produksi beras nasional naik tipis sebesar 0,2 persen menjadi 38,6 juta ton pada musim 2026/2027 dari sebelumnya 38,5 juta ton.


Menurut FAO, Indonesia bersama Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina memiliki peluang mempertahankan bahkan meningkatkan produksi berkat harga gabah yang masih menarik sehingga mendorong petani tetap menanam.
Kondisi ini sejalan dengan klaim pemerintah mengenai penguatan ketahanan pangan nasional.


Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia telah mencapai status swasembada beras. Pemerintah bahkan tidak menerbitkan izin impor beras medium sepanjang 2025 karena cadangan nasional dinilai berada pada kondisi surplus.


Saat ini, stok beras pemerintah disebut telah mencapai 5,2 juta ton—angka yang melampaui kapasitas gudang Bulog sekitar 3 juta ton sehingga diperlukan tambahan gudang sewa untuk menampung cadangan.


Selain stok yang tersimpan, pemerintah juga mencatat potensi produksi dari tanaman padi yang masih berada di lahan mencapai 10–11 juta ton. Ditambah cadangan beras yang tersebar di rumah tangga, hotel, dan restoran sekitar 12,5 juta ton.


Dengan kondisi tersebut, pemerintah meyakini kebutuhan konsumsi nasional masih aman untuk 10 hingga 11 bulan ke depan.


Di sisi distribusi, penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP) terus dilakukan melalui bantuan pangan, program stabilisasi harga, hingga penanganan keadaan darurat guna menjaga akses masyarakat terhadap beras.


Di tengah tekanan produksi pangan dunia, Indonesia dinilai berada dalam posisi yang relatif lebih siap menghadapi tantangan ketahanan pangan ke depan.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit