Ketegangan Memanas, Iran Ancam Respons Tegas usai Pesawat Tempur AS Intensif Beroperasi di Selat Hormuz
TEHERAN – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat di tengah proses negosiasi damai. Aktivitas pesawat tempur dan drone militer AS yang terus berpatroli di atas Selat Hormuz memicu kemarahan Teheran dan memunculkan peringatan keras dari militer Iran.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando operasional gabungan militer Iran, menegaskan akan memberikan respons cepat dan tegas terhadap setiap bentuk campur tangan militer AS di kawasan Selat Hormuz.
"Militer Iran akan memberikan respons cepat dan tegas terhadap setiap campur tangan AS di Selat Hormuz," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari Middle East Monitor.
Iran menegaskan Selat Hormuz merupakan wilayah strategis yang berkaitan langsung dengan kedaulatan nasional. Karena itu, keamanan dan stabilitas jalur pelayaran tersebut disebut sebagai garis merah yang tidak bisa ditawar.
Teheran juga memperingatkan seluruh kapal tanker minyak maupun kapal niaga agar mematuhi jalur pelayaran dan protokol navigasi yang telah ditetapkan. Pelanggaran terhadap aturan tersebut disebut akan mendapat tindakan langsung dari Angkatan Bersenjata Iran.
Menanggapi peringatan itu, Washington menegaskan tidak akan menerima perubahan aturan pelayaran secara sepihak di Selat Hormuz. Menurut sumber Al Arabiya, AS menilai setiap perubahan yang dilakukan Iran bertentangan dengan kesepakatan yang telah disepakati kedua negara.
AS juga menyatakan terus memantau aktivitas Iran di kawasan tersebut. Washington bahkan mengingatkan bahwa proses pencairan aset Iran yang dibekukan akan bergantung pada kepatuhan Teheran terhadap nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati.
Sebelumnya, pada pertengahan Juni 2026, AS dan Iran menandatangani MoU yang mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Perundingan teknis mengenai implementasi kesepakatan, termasuk pembahasan program nuklir Iran dan upaya mengakhiri konflik secara permanen, dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Putaran negosiasi berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli 2026.
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim proses negosiasi dengan Iran menunjukkan perkembangan positif. Ia mengatakan Teheran telah menyetujui sebagian besar tuntutan utama Washington.
Trump kembali menegaskan bahwa tujuan utama AS bukan mengganti pemerintahan Iran, melainkan memastikan negara tersebut tidak memiliki senjata nuklir.
"Kami hanya menginginkan satu hal: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Trump.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu






