TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Perdagangan Kembali Surplus, Inflasi Agustus Naik Jadi 3,19 Persen

Reporter & Editor : AY
Rabu, 02 September 2026 | 08:12 WIB
Rilis BPS. Foto : Ist
Rilis BPS. Foto : Ist

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah perkembangan positif sekaligus tantangan dalam perekonomian nasional. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026 setelah mengalami defisit selama dua bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Agustus 2026 masih berada dalam sasaran, meski meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.


Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus sebesar 120 juta dolar AS. Capaian tersebut berbalik positif setelah neraca perdagangan mengalami defisit pada Mei dan Juni 2026.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, surplus Juli terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang membaik.


“Surplus tersebut ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar 3,10 miliar dolar AS,” kata Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Gedung BPS, Jakarta, Selasa (1/9/2026).


Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar 2,98 miliar dolar AS. Namun, angka tersebut membaik dibandingkan Juni 2026 yang mencatat defisit sebesar 3,49 miliar dolar AS.


Sejumlah komoditas menjadi penopang utama surplus perdagangan nonmigas. Di antaranya lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Sementara itu, defisit perdagangan migas terutama dipengaruhi oleh impor hasil minyak dan minyak mentah.


Meski kembali surplus pada Juli, kinerja perdagangan secara kumulatif masih berada di bawah capaian tahun sebelumnya. Sepanjang Januari-Juli 2026, surplus neraca perdagangan tercatat 3,70 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 23,77 miliar dolar AS.


Inflasi Naik, Masih Dalam Sasaran
Selain perdagangan, BPS mencatat inflasi nasional pada Agustus 2026 mengalami kenaikan. Inflasi tahunan tercatat 3,19 persen, meningkat dibandingkan Juli yang berada di level 2,88 persen.


Secara bulanan, inflasi Agustus mencapai 0,21 persen. Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026.


“Dan secara tahun kalender atau year to date (ytd) terjadi inflasi sebesar 1,86 persen,” ujar Ateng.


Berdasarkan kelompok pengeluaran, terdapat tiga kelompok utama yang memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan Agustus.


Pertama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,86 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,13 persen.

Komoditas yang memberikan tekanan antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), serta cabai merah.


Kedua, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 9,25 persen dengan andil 0,63 persen. Tekanan terbesar berasal dari komoditas emas perhiasan.


Ketiga, kelompok transportasi yang mengalami inflasi tahunan sebesar 4,79 persen dengan andil 0,58 persen. Komoditas yang turut mendorong inflasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan mobil.


“Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan juga mobil,” jelas Ateng.


Inflasi Inti Mulai Perlu Dicermati
Jika dilihat berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi inti tercatat 2,92 persen dengan andil sebesar 1,87 persen.


Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, serta laptop atau notebook.


Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 3,32 persen dengan andil 0,65 persen. Komoditas yang dominan memberikan tekanan antara lain bensin, tarif angkutan udara, SKM, dan bahan bakar rumah tangga.


Adapun komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan 4,06 persen dengan andil 0,67 persen. Tekanan terutama berasal dari daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah.


Secara kewilayahan, inflasi tahunan terjadi di seluruh provinsi di Indonesia. Inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utara sebesar 5,28 persen, sedangkan terendah terjadi di Kalimantan Utara sebesar 2,17 persen.


BPS menyebut sejumlah faktor turut memengaruhi pergerakan harga selama Agustus. Salah satunya peningkatan permintaan daging ayam ras seiring peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan HUT Kemerdekaan RI, serta kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah.


Tekanan harga juga dipengaruhi penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi cabai rawit, misalnya, menurun di sejumlah daerah sentra seperti Kabupaten Sampang, Lamongan, dan Temanggung.
Sebaliknya, produksi bawang merah meningkat di Kabupaten Nganjuk, Malang, dan Bantaeng.


Dari sektor transportasi, tarif angkutan udara mengalami penurunan seiring turunnya harga avtur. Harga BBM nonsubsidi juga mengalami perubahan. Pertamax turun sekitar 2 persen, sedangkan Pertamax Turbo turun sekitar 5 persen pada Agustus 2026.


Pemerintah Diminta Tak Lengah
Faktor cuaca juga menjadi perhatian. BPS mencatat adanya prediksi El Nino pada 2026 yang berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi produksi sekaligus harga sejumlah komoditas pangan.


Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan pemerintah agar tidak terlena meski inflasi masih berada dalam sasaran.


Menurutnya, inflasi Agustus sebesar 3,19 persen secara tahunan memang masih berada dalam sasaran kebijakan. Namun, kenaikan dari 2,88 persen pada Juli tetap perlu dicermati.


“Menurut saya, kondisi ini terlihat tenang di permukaan, tetapi strukturnya belum sepenuhnya nyaman,” kata Yusuf saat dihubungi Rakyat Merdeka Group, kemarin.


Yusuf menilai kenaikan inflasi tersebut belum dapat disebut sebagai alarm. Namun, pemerintah perlu mencermati lebih dalam sumber tekanan harga yang terjadi.


Menurut dia, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari satu komoditas. Sejumlah bahan pangan seperti ayam ras, cabai, ikan segar, beras, dan minyak goreng masih memberikan tekanan. Emas perhiasan juga turut menyumbang kenaikan inflasi.


Perkembangan inflasi inti yang mendekati 2,9 persen juga patut diperhatikan. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga mulai meluas dan tidak hanya bersumber dari komponen pangan yang selama ini dikenal paling bergejolak.


“Tekanan inflasi mulai meluas, tidak hanya berasal dari komponen pangan yang biasanya bergejolak,” pungkasnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit