Buntut El Nino
Suhu Memanas, Karhutla dan Kekeringan Meluas
JAKARTA – Dampak fenomena El Nino mulai dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Curah hujan yang menurun membuat suhu udara meningkat, sementara kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian meluas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino masih bertahan hingga awal 2027. Dampaknya diprediksi paling terasa pada Agustus-September 2026, yang bertepatan dengan puncak musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada Agustus terjadi di 369 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 48,84 persen dari luas daratan Indonesia. Sejumlah wilayah juga diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal.
Kondisi tersebut membuat suhu udara terasa semakin panas, terutama pada siang hari. Di sejumlah wilayah dataran rendah dan pesisir, suhu bahkan dapat mencapai 32-35 derajat Celsius atau lebih.
Dampak lainnya adalah meningkatnya risiko karhutla. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla dan kekeringan menjadi bencana yang mendominasi sejumlah kejadian di Indonesia pada akhir Juli hingga awal Agustus.
Karhutla, antara lain, terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada akhir Juli. Cuaca terik dan kondisi lahan yang kering membuat api mudah menyebar. Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, serta Alun-Alun Barat Surya Kencana di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Kekeringan pun mulai berdampak terhadap masyarakat di sejumlah daerah. Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, data BNPB pada akhir Juli mencatat kekeringan telah berdampak terhadap 16.291 kepala keluarga atau 52.602 jiwa.
Kondisi serupa terjadi di Jawa Tengah. Kekeringan di Desa Plumutan dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, berdampak terhadap 586 kepala keluarga atau 1.224 jiwa yang membutuhkan pasokan air bersih.
Sementara di Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026. Wilayah tersebut diperkirakan menghadapi puncak kekeringan pada Juli-Agustus.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan, dampak El Nino perlu diantisipasi karena tidak hanya berkaitan dengan cuaca, tetapi juga dapat menekan inflasi akibat terganggunya produksi pangan dan aktivitas ekonomi.
Pengalaman sebelumnya menunjukkan hubungan erat antara fenomena iklim ekstrem, karhutla, dan tekanan harga. Saat El Nino kuat pada 2015, luas karhutla mencapai sekitar 2,4 juta hektare dan inflasi berada di kisaran 6-7 persen.
Pada 2019, luas karhutla turun sekitar separuh dibandingkan 2015, sementara inflasi tercatat 2,72 persen. Sedangkan saat El Nino kuat pada 2023, karhutla masih mencapai lebih dari 1 juta hektare dan inflasi tercatat 1,8 persen.
“Pada El Nino kuat di 2023, kebakaran hutan tetap terjadi lebih dari 1 juta hektare dan inflasi terjadi walaupun lebih rendah 1,8 persen,” ujar Faisal dalam Dialog Nasional Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Berbeda dengan penanganan El Nino pada 2015 yang lebih banyak mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi, Pemerintah kini memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
BMKG bersama BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan, khususnya gambut, sekaligus menekan risiko karhutla.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menyiapkan sejumlah teknologi untuk menghadapi dampak El Nino. Teknologi tersebut meliputi modifikasi cuaca, desalinasi air laut, hingga pengolahan air menjadi air siap minum.
“Saya diundang oleh Bapak Presiden untuk menyampaikan teknologi-teknologi apa yang dimiliki oleh BRIN untuk mengatasi El Nino,” ujar Kepala BRIN Arif Satria di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
BRIN juga mendapat tugas menyempurnakan teknologi modifikasi cuaca dengan berbagai pendekatan, mulai dari penggunaan natrium klorida (NaCl) berukuran 2-5 mikron, teknologi flare, hingga pemanfaatan pesawat nirawak atau drone.
Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, Pemerintah mengoptimalkan pengelolaan bendungan dan infrastruktur sumber daya air untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk memastikan kebutuhan air tetap terpenuhi dan mendukung target swasembada pangan di tengah ancaman El Nino.
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 21 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu




