FBC Hadirkan XERF, Teknologi Pengencangan Kulit Multi-Frekuensi
TANGSEL - Tren kedokteran estetika di Indonesia kian bergeser ke arah tindakan non-invasif atau tanpa pembedahan yang menawarkan hasil natural dengan masa pemulihan (downtime) yang minim. Menjawab dinamika tersebut, industri estetika medis dalam negeri mulai mengadopsi teknologi berbasis gelombang radio (radiofrequency) multi-frekuensi generasi terbaru guna meningkatkan efisiensi dan kenyamanan pasien.
Salah satu inovasi global yang mulai masuk ke pasar domestik adalah XERF, teknologi pengencangan kulit (skin tightening) besutan Cynosure Lutronic. Alat medis yang populer di Korea Selatan serta beberapa negara seperti Thailand dan Taiwan ini resmi diadopsi oleh FBC Aesthetic and Revitalization Center di Tangerang, Banten, untuk melengkapi portofolio perawatan estetika berbasis teknologi yang ada.
Sains di balik teknologi ini terletak pada kemampuannya menghantarkan dua frekuensi gelombang radio sekaligus secara bersamaan, yakni 6,78 MHz dan 2 MHz. Karakteristik monopolar RF ini diklaim sebagai yang pertama mendapatkan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).
Pemilik Klinik FBC Aesthetic and Revitalization Center, dr. Fanda Bahtiar, Rabu (20/5/2026), menjelaskan bahwa adopsi teknologi baru di tengah menjamurnya alat pengencang kulit berbasis ultrasound atau RF konvensional memerlukan seleksi yang ketat. Aspek diferensiasi dan keamanan pasien menjadi parameter utama.
"Teknologi multi-frekuensi ini memungkinkan energi dihantarkan ke lapisan kulit bagian dalam secara lebih presisi dan merata. Tantangan terbesar perawatan RF selama ini adalah rasa panas berlebih di permukaan kulit. Inovasi pada sistem pendingin terintegrasi (advanced integrated cryogen delivery) mampu menjaga suhu permukaan kulit tetap stabil, sehingga meminimalkan rasa nyeri tanpa mengurangi efektivitas stimulasi kolagen," ujar Fanda.
Permintaan terhadap perawatan kulit non-invasif di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memang mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Konsumen kini tidak hanya mencari hasil yang instan, tetapi juga memprioritaskan prosedur yang aman, berbasis bukti ilmiah (evidence-based), serta tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Vice President idsMED Aesthetics selaku distributor resmi teknologi tersebut di Indonesia, Andy Rahardja, menyatakan bahwa membawa masuk teknologi global yang telah teruji secara klinis merupakan langkah strategis untuk menaikkan standar industri estetika nasional.
"Kehadiran teknologi ini di klinik lokal mencerminkan kesiapan pelaku industri dalam negeri untuk sejajar dengan perkembangan global. Ini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menyediakan opsi perawatan yang lebih efektif dan nyaman berbasis teknologi mutakhir," kata Andy.
Sementara itu, Head of Aesthetics idsMED Aesthetics, Marisa Theresia, menambahkan bahwa sebelum teknologi ini didistribusikan secara luas, evaluasi klinis langsung bersama para dokter spesialis telah dilakukan di Korea Selatan. Proses tersebut penting untuk memastikan kesesuaian parameter klinis dengan karakteristik kulit masyarakat Asia, khususnya Indonesia.
Melalui integrasi teknologi teranyar ini, lanskap industri estetika medis di Indonesia diharapkan terus bertransformasi menuju ekosistem yang mengedepankan inovasi sains, keamanan prosedur, dan hasil yang terukur bagi pasien.(*)
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu


