TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Rupiah Tembus Rp 17.700, Apa Bedanya Dengan Krisis Moneter 1998?

Reporter & Editor : AY
Rabu, 20 Mei 2026 | 08:05 WIB
Menkeu Purbaya. Foto : Ist
Menkeu Purbaya. Foto : Ist

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan kini bergerak di kisaran Rp 17.700 per dolar AS. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran publik akan terulangnya krisis moneter (krismon) 1998. Namun, pemerintah memastikan situasi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibanding masa krisis hampir tiga dekade lalu.


Menteri Keuangan  menegaskan, pelemahan rupiah saat ini tidak bisa disamakan dengan kondisi pada 1998. Menurutnya, fondasi ekonomi nasional kini jauh lebih kuat, baik dari sisi perbankan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas sosial-politik.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda. Tahun 1998 itu kebijakannya salah dan instabilitas sosial-politik terjadi setelah setahun kita resesi,” ujar Purbaya, Selasa (19/5/2026).


Ia menjelaskan, salah satu perbedaan paling mencolok terlihat dari tingkat inflasi. Saat krisis 1998, inflasi Indonesia melonjak hingga lebih dari 77 persen. Sementara pada April 2026, inflasi masih terkendali di level 2,41 persen dan tetap berada dalam target pemerintah.


Dari sisi pertumbuhan ekonomi, situasi juga berbanding terbalik. Pada 1998, ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 13 persen. Sedangkan pada triwulan I-2026, ekonomi nasional justru tumbuh 5,61.

 

³Kondisi sektor perbankan pun dinilai jauh lebih sehat dibanding era krismon. Pada 1998, banyak bank kolaps akibat lemahnya modal dan tingginya kredit macet. Kini, rasio kecukupan modal (CAR) perbankan mencapai 25,83 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 2,17 persen.


Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga meningkat signifikan. Jika pada 1998 cadangan devisa hanya sekitar 17,4 miliar dolar AS, maka per April 2026 jumlahnya telah mencapai 146 miliar dolar AS.


“Fondasi ekonomi kita sekarang jauh lebih kuat, jadi masyarakat tidak perlu terlalu khawatir,” kata Purbaya.
Senada dengan itu, Gubernur   optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil dalam beberapa bulan ke depan.


Menurut Perry, Bank Indonesia masih memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS sepanjang 2026. Ia meyakini tekanan terhadap rupiah mulai mereda pada semester kedua tahun ini.


“Pengalaman kami, April sampai Juni memang biasanya tinggi. Nanti Juli dan Agustus cenderung menguat,” ujar Perry.
Meski demikian, ekonom senior sekaligus Rektor   mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap enteng pelemahan rupiah.


Menurut Didik, persoalan utama bukan hanya faktor teknis ekonomi, melainkan juga menyangkut kepercayaan pasar terhadap pemerintah dan arah kebijakan nasional.


“Krisis 1998 pada dasarnya adalah krisis kepercayaan dan krisis institusi, bukan semata-mata krisis fundamental ekonomi,” ujarnya.

 

Ia menilai pemerintah perlu segera memperkuat kepercayaan investor melalui reformasi birokrasi, deregulasi kebijakan, dan perbaikan iklim investasi agar arus modal asing tidak terus keluar dari Indonesia.


Didik juga menyinggung keberhasilan Presiden ke-3 RI  yang mampu memulihkan rupiah secara cepat pasca-krisis 1998 melalui reformasi politik dan restrukturisasi sektor perbankan.
Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran penting dalam menghadapi tekanan ekonomi global saat ini.


“Saya yakin masalah nilai tukar sekarang juga berkaitan erat dengan faktor trust atau kepercayaan pasar,” tegasnya.

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit